UKM Binaan Semen Indonesia R&D Lamongan Pasok Kebutuhan Umrah dan Haji

Menurunnya pasar kerajinan di dalam negeri membuat R & D Lamongan banting haluan. Mitra binaan Semen Indonesia yang awalnya rutin memproduksi tas dan sepatu bernuansa etnik ini sekarang fokus melayani  kebutuhan jamaah umrah maupun haji. Sejak setahun terakhir R & D menjalin kerja sama dengan beberapa biro perjalanan umrah.
“Kami nggak mungkin bertahan dengan produk lama, sementara situasi bisnis sudah berubah seperti sekarang. Sudah setahun ini R & D kerja sama dengan delapan biro perjalanan umrah,” terang bos R & D, Hazar Falasifa, Senin (22/1). Delapan biro travel itu tersebar di Lamongan, Tuban, Sidoarjo dan Surabaya.
R & D memasok kebutuhan jamaah berupa tas troli, tas kabin, juga tas selempang. Menurut Falis–panggilan akrab Hazar Falasifa–, sekali keberangkatan jumlah pesanannya bisa ratusan unit. “Ada yang pesan tiap keberangkatan, ada juga yang pesan dalam jumlah banyak tiap tiga-lima bulan sekali. Untuk stok. Sekali pesan untuk nyetok bisa 500 unit,” lanjutnya.
Bisa ditebak, nilai transaksi dengan satu biro umrah menembus  ratusan juta rupiah. Pasalnya harga satu tas selempang saja Rp 50-75 ribu, tas kabin Rp 250-300 ribu, sedangkan tas koper Rp 350 ribu. R & D yang jumlah karyawannya terbatas harus menjalin kerja sama dengan perajin dari luar untuk melayani pesanan massal tersebut.
“Intinya usaha tidak boleh mandek, soalnya saya harus menghidupi banyak karyawan,” beber Falis yang mempekerjakan 15 karyawan di rumah, plus 20-an penjahit mitra yang mengerjakan order di rumah masing-masing.
Hazar Falasifa menunjukkan sertifikat hak cipta (HAKI) yang fasilitasi oleh Semen Indonesia.
Selain menggandeng biro perjalanan umrah, sambung lulusan Unibraw Malang ini, pihaknya juga kerap melayani kebutuhan instansi-instansi, baik pemerintah maupun swasta. Antara lain beberapa rumah sakit di Lamongan. “Kita memasok tas obat yang biasanya dibawa pasien sepulang dari rumah sakit. Instansi lain kalau pas ada acara juga sering memesan goody bag dan kebutuhan lainnya,” beber Falis yang kian rajin mengikuti tender ke berbagai instansi.
Diakuinya, tidak masuk akal berharap bisnis R & D tetap hidup bila hanya mengandalkan produk-produk kerajinan lama. Pasalnya pola belanja serta konsumsi masyarakat sudah berubah total. Barang-barang kerajinan mulai ditinggalkan. Penjualan tas, sandal serta sepatu handmade yang jadi ciri khas R & D ikut anjlok. “Kami tetap memproduksi kerajinan, tapi paling tinggal 20 persen saja,” akunya. R & D sebelumnya dikenal sebagai produsen kerajinan berbahan pandan, karung goni, serat agel (corypha utan), eceng gondok, rotan, serta tempurung kelapa. (lin)