(Indonesia) Tingkatkan Respon Auditor SMI Bangun System Continuous Monitoring

Sorry, this entry is only available in Indonesia Click here to continue For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Aplikasi system continuous monitoring yang dibangun Internal Audit Grup (IAG) Semen Indonesia (SMI) bersama Sinergi Informatika Semen Indonesia (SISI) disosialisasikan kepada seluruh OpCo, dalam acara Sharing Session End User Training – Aplikasi Continuous Monitoring, di Ruang Synergi, Gedung Utama Semen Indonesia, lantai 4, Senin (25/06).

“Sistem ini dibangun selama dua bulan terakhir, setelah melalui diskusi dengan beberapa pihak terkait. Sistem dibangun oleh SISI melalui SAP Solman (Solusi Management). SAP Solman ini bisa diintegrasikan kepada system SAP yang dipergunakan SMI,” kata Kepala Biro IAG Daniel Wiryawan, saat membuka acara.

Sistem yang dibangun SMI ini, kata Daniel, bertujuan untuk meningkatkan respon auditor atas ketidakwajaran proses bisnis yang memerlukan evaluasi di unit kerja. Memonitor transaksi proses bisnis di unit kerja, untuk memperoleh peringatan proaktif untuk masalah yang berpotensi mengganggu aliran proses bisnis. Serta memperoleh allert dari sistem atas indikasi ketidakwajaran aktivitas operasional proses bisnis sebagai notifikasi untuk auditor.

Untuk membangun sistem ini, SISI didampingi SAP Indonesia untuk memandu. Di Indonesia, sistem yang dibangun SMI ini cukup langka. Maka, untuk melakukan pengecekan apakah sistem yang dibangun sudah berjalan sesuai prosedur SAP, dengan terpaksa SAP Indonesia melakukan eskalasi (menaikkan) system continuous monitoringSMI ini ditingkat Asia dan Global.

Untuk peringatan, dikelompokkan menjadi tiga prioritas, yaitu Risiko Extreme, Risiko Moderat, dan Risiko Low. Sistem akan mendeteksi, apakah ketidakwajaran proses bisnis masuk dalam salah satu prioritas itu. Untuk menentukan prioritas, berdasar key figure, di mana inputnya telah ditentukan SAP.

Sementara ini, sesuai permintaan yang muncul dalam rapat persiapan sebelumnya, dibangun beberapa sistem. Antara lain,   stok bahan batubara, stok transport order, tren bulanan, pembayaran jatuh tempo, sales order. “Ini hanya contoh, dan nanti akan diubah sesuai permintaan dan kebutuhan. Setiap opco tidak harus sama, namun disesuaikan kondisi masing-masing. Dan opco bisa memonitor proses bisnis di tempatnya, tapi tak bisa melihat opco lain. Sedangkan IAG bisa memonitor aktivitas bisnis di tiap opco,” tandas Daniel. (ros)