Sosialisasi Pakta Integritas Bagi Outsourching

Dalam mewujudkan Good Corporate Governance (GCG), integritas karyawan dalam bekerja              di sebuah perusahaan adalah sangat diperlukan. Terlebih di Semen Gresik, integritas sudah dicanangkan dalam budaya perusahaan yang diharapkan dapat tertanam dan melekat di dalam jiwa setiap karyawan.

Integritas tidak hanya wajib dimiliki oleh karyawan existing (Semen Indonesia Group), namun setiap karyawan yang aktif bekerja di perusahaan outsourching (vendor dan anak usaha) khususnya yang area kerjanya di dalam pabrik juga semestinya menunjukan hal yang sama (integritas), karena sama-sama bekerja demi kelancaran operasional perusahaan. Untuk memberikan pemahaman bagi karyawan outsourching tersebut, perusahaan menyelenggarakan sosialisasi pakta integritas kepada seluruh vendor termasuk dari anak perusahaan maupun perusahaan afiliasi di Gedung Auditorium Kantor Pusat Semen Gresik   di Tuban (12/12).

Menurut Kasi Bina Lingkungan Tuban, Siswanto, kegiatan sosialisasi ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari rapat intens yang dihadiri oleh jajaran Biro Perencanaan Pengadaan, GRC, Tambang, K3 dan Bina Lingkungan Tuban dengan tujuan memberikan penekanan integritas bagi setiap karyawan outsourching yang bekerja di area Semen Gresik.  Dari hasil rapat tersebut akhirnya disepakati adanya Pakta Integritas yang nantinya diwajibkan bagi masing-masing karyawan vendor untuk menandatangani komitmen dalam Pakta Integritas tersebut, tidak terkecuali perusahaan vendornya, karena nantinya setiap pelanggaran merupakan tanggung jawab dari perusahaan vendor dan dapat dikenakan sanksi.

Penandatanganan Pakta integritas dilakukan sekaligus saat di akhir kegiatan sosialisasi, namun tidak cukup sampai di situ. Di dalam evaluasi kinerja di perencanaan pengadaan dan dokumen perikatan yang lainnya, serta di kontrak rks dll akan dimasukan pula oleh masing-masing Koordinator Anggaran (KA).

Sosialisasi ini dilakukan karena masih adanya hal yang sangat memprihatinkan, yaitu karyawan perusahaan vendor yang sudah bekerja di area pabrik, namun di sisi lain juga ikut melakukan unjuk rasa atau memfasilitasi rekan-rekan yang berada di luar perusahaan dan masyarakat sekitar perusahaan untuk melakukan unjuk rasa terhadap perusahaan dimana dia setiap harinya juga bekerja di dalamnya. Terlebih unjuk rasa tersebut beramai-ramai sampai menduduki peralatan, hingga peralatan tersebut tidak dapat dijalankan. Apalagi bila yang melakukan notabene karyawan yang juga bekerja di perusahaan “Ini kan ironis dan dapat menghambat proses produksi”, tandasnya.

Selain itu ada pula karyawan vendor yang gemar mengupload di media sosial mengenai hal-hal yang tidak semestinya tentang perusahaan. “Sebenarnya apabila terdapat informasi/ kritik dapat dikomunikasikan dengan baik, langsung maupun tidak langsung di lingkup internal, agar dampak ke sekitarnya akan dapat menjadi baik dan lebih memiliki nilai manfaat “, tambah Siswanto.

Ke depan, lanjut Siswanto, apabila ada yang mengetahui terjadi pelanggaran dapat dilaporkan kepada Seksi Keamanan beserta bukti pelanggarannya. Kemudian Seksi Keamanan mengevaluasi pelaporan tersebut, apa bila benar terjadi akan dilanjutkan kepada Tim Verifikasi untuk dilakukan rapat tim guna menentukan bahwa benar-benar terjadi pelanggaran, sekaligus sanksi yang akan diberikan. Tim ini beranggotakan KA terkait, Seksi Bina Lingkungan, GRC, Biro Perencanaan Pengadaan dengan diketuai oleh Kabiro Keamanan. “Untuk sanksinya akan diberikan  teguran lisan atau tertulis, namun tidak menutup kemungkinan bila pelanggarannya ekstrem akan dilakukan blacklist terhadap perusahaan vendornya, tergantung bobot pelanggarannya”, pungkasnya.