(Indonesia) Serahkan Santunan Disela Buka Bersama

Sorry, this entry is only available in Indonesia Click here to continue For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Tak hanya diisi dengan arahan direksi dan komisaris, silaturahmi dan buka puasa bersama direski dan karyawan Semen Indonesia bertajuk “Satukan Hati dalam Kemuliaan Ramadan”yang dihadiri seluruh jajaran direksi Semen Indonesia, Semen Gresik dan Komisaris Utama Semen Indonesia juga diisi dengan kegiatan sosial berupa santunan anak yatim.

Dalam kesempatan tersebut perusahaan semen pelat merah ini menyiapkan santunan untuk 1.500 anak yatim di sekitar wilayah operasi perusahaan. Mereka, antara lain berasal dari Desa temandang dan Telogowaru Kecamatan Merakurak, serta Desa Sumberarum Kecamatan Kerek.

Santunan senilai total Rp 337 juta diserahkan langsung oleh komisaris dan direksi SMI kepada perwakilan anak yatim. “Semoga apa yang dilakukan Semen Indonesia ini membawa berkah bagi semuanya. Sebab, kebaikan yang dilakukan selama ramadhan akan dilipatgandakan sampai 1.000 kali. Jadi kalau ada santunan pada anak kita sebanyak 1.500, berarti akan berlipat 1.000 kali,” tutur KH Muhammad Muhyidin Munawar dari Senori, Tuban, yang didaulat memberikan tausiyah di akhir acara.

Kiai sepuh ini mengingatkan, menjadi kepala atau imam itu berat sekali. Karena itu dalam hadis disebutkan, ada tujuh kelompok manusia yang pada hari kiamat nanti tidak tersengat panas matahari. Yang pertama adalah pemimpin yang adil. “Jadi bukan kiai atau ulama, tapi pemimpin yang adil dan bijak. Maka itu kalau direksi menghendaki kebaikan di bulan ramadhan ini, semoga saja yang diharapkan dikabulkan oleh Allah,” katanya.

Sebelum penyerahan santunan, Direktur Utama Semen Indonesia, Hendi Prio Santoso mengajak jajaran karyawan dan manajemen SMI Group untuk berhijrah dari kebiasaan lama. Saat ini situasi dan kondisi industri semen dalam negeri menurutnya telah jauh berubah. Karena itu perusahaan juga harus melakukan perubahan.

“Hijrah dalam arti mengubah total kebiasaan serta etos kerja yang lama untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Kita sekarang masih mengandalkan business model dan aktivitas yang sama ketika masih menjadi raja. Bagaimana kita berharap hasil yang berbeda, kalau business model maupun prosesnya lama atau kuno. Tetap tidak bisa ketemu,” tandasanya.  (lin/znl/bwo/eds)