Selamat Jalan Sahabat

Sosok Almarhum memang belum terlalu lama memangku jabatan Direktur Utama Semen Indonesia. Diangkat pada RUPS SMI tahun buku 2015 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Jumat (13/5/2016),  masa tugasnya baru rampung 2020 mendatang. Namun Tuhan berkehendak lain.
Almarhum ’dipanggil pulang’ saat tanggung jawabnya sebagai orang nomor satu di perseoran baru berjalan 1 tahun 2 bulan. Walau terbilang pendek, tapi harus diakui, tidak sedikit tinggalan mantan direktur Pengembangan Usaha dan Strategi Bisnis (PUSB) ini. Warisan berupa gagasan-gagasan cerdas yang diperlukan perusahaan agar tetap jadi juara di tengah gempuran pemain baru, baik investor lokal maupun kelas dunia.
Bicara tentang Almarhum tak bisa lepas dari tiga hal; visioner, berani melakukan eksekusi, dan inspiratif. Mantan Director of Network, IT & Solution, PT Telkom, ini memang kaya ide. Bukan ide kosong yang dilontarkan hanya dengan maksud agar dirinya terlihat berbeda dan menonjol. Gagasan dan ajakan  almarhum selalu aplikatif sekaligus solutif.  “Kuncinya seluruh karyawan SMI harus mulai berubah. Itu bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Allah. Karena untuk Allah, maka otomatis untuk kita juga,” katanya saat pertama kali tampil di hadapan karyawan SMI dalam acara leader café. Ajakan itu dilontarkan mengingat lanskap bisnis semen juga berubah, jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan.
Ketika persaingan pasar makin menggila yang berakibat anjloknya EBITDA margin, maka perseroan tidak boleh lagi hanya berpikir menjual semen. Pabrik tetap jalan dan jadi andalan utama, tapi produk akhirnya bukan lagi semen. “Kelak kita mengolah batu kapur, tapi keluarnya precast, ready mix, fiber semen, dan lainnya,” begitu kalimat yang meluncur dari almarhum usai diangkat menjadi Dirut SMI.
Ya, di masa Pak Rizkan, perusahaan pelat merah ini makin serius menerjuni bisnis hilir. Rencana ini dieksekusi dengan membentuk Semen Indonesia Beton (SII), Semen Indonesia Logistik (SILOG), Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB), juga Semen Indonesia Internasional (SII). Nama terakhir itu berfungsi untuk menegaskan jati diri SMI di kancah Asia, sebagai pengejawantahan strategi 3 + 1 (expand regional presence). Bagi Rizkan, setiap rencana harus diwujudkan agar tidak berhenti di tataran mimpi.
Transformasi dari produsen semen menjadi bisnis semen (cement business) memang tidak bisa ditawar lagi. Karena itu Almarhum mengganti visi perusahaan dari ‘Menjadi Perusahaan Persemenan Internasional yang Terkemuka di Asia Tenggara’ menjadi ‘The Leading Integrated Building Material Group  in Southeast Asia, atau ‘Menjadi Perusahaan Building Material Terpadu yang Terkemuka di Asia Tenggara’.
Sebuah keputusan besar yang mengandung konsekuensi dan risiko besar pula. Tapi Almarhum berani menanggungnya. Sementara di lingkup internal dia mencetuskan ide cost transformation (CT); satu jurus efisiensi yang bersifat struktural. Bukan sekadar menghemat dengan cara membeli barang ke tempat yang lebih murah. Lebih dari itu, SMI wajib menguasai pabrikan atau sumber barang dimaksud.
Konsep CT berbuah acungan jempol dari Dewan Komisaris SMI karena tahun lalu menghasilkan penghematan Rp 1,5 triliun atau 108 persen dari target yang dicanangkan. Almarhum tak puas sampai di situ. Sebab, menurutnya, jurus bisnis itu hanya dua, bagaimana menaikkan pendapatan dan bagaimana menurunkan cost.
Upaya peningkatakan pendapatan terus digenjot dengan memperluas pasar, pembangunan sejumlah fasilitas produksi baru, serta meningkatkan peran SMI sebagai marketer semen di kawasan regional. Almarhum terus memompa semangat karyawan agar percaya diri, menjaga kekompakan, serta optimistis SMI tetap eksis hingga 30, 50, bahkan 100 tahun ke depan.
Almarhum memang jago pidato. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya begitu terstruktur dan konseptual, sehingga menjadi pemantik berbagai perubahan yang terjadi di perusahaan. Sekadar mengingatkan, berikut beberapa kutipan Almarhum Rizkan Chandra yang penuh makna dan inspiratif;
1. Jurus bisnis itu hanya dua, bagaimana menaikkan pendapatan dan bagaimana menurunkan cost.
2. Semen Indonesia butuh burning platform agar seluruh karyawan termotivasi bekerja maksimal, kreatif dan inovatif.
3. Selalulah berpikir jangka panjang, karena yang panjang itu sudah mencakup yang pendek-pendek.
4. Orang yang berpikir positif akan selalu mencari opportunity di setiap problem. Sebaliknya, mereka yang berpikir pesimistis selalu mencari masalah di setiap opportunity.
5. Customer butuh apa, kita harus benar-benar tahu. Itulah esensi perusahaan menjadi customer oriented company.
6. Perusahaan yang menerapkan corporate culture dengan baik mengalami pertumbuhan beratus-ratus kali lipat dibanding perusahaan yang tidak fokus pada corporate culture.
7. Tahun 2017 kita berada di channel transformation atau CHT. Ada tida hal yang harus dilakukan, yaitu Customer focus, strentghening Holding, serta Transformation (CHT).
Menilik dedikasi dan talentanya yang luar biasa, tak aneh bila Almarhum mampu meningkatkan kinerja SMI secara signifikan sehingga dinobatkan sebagai Best CEO 2016 oleh Majalah Warta Ekonomi dan CEO Inspiratif Jawa Tengah 2016 oleh Suara Merdeka Network. Almarhum juga berhasil membawa perseroan menyabet penghargaan sebagai Best Managed Companies di ajang Asia’s Best Companies.
Buat SMI, berpulangnya Bapak Rizkan Chandra adalah sebuah kehilangan besar. Kendati begitu pikiran-pikiran cerdasnya tidak boleh ikut mati. Keluarga besar SMI punya kewajiban mewujudkan serangkum mimpinya yang belum tercapai. Mimpi besar menjadikan SMI tidak hanya jawara di kancah domestik, tapi juga disegani di panggung dunia. Selamat jalan Pak Rizkan, tenanglah di sisi-Nya. Biarkan kami meneruskan pekerjaanmu yang belum tuntas. (lin)