(Indonesia) Mengapa SMI Patut Mewaspadai Pertumbuhan Semen Anhui Conch?

Sorry, this entry is only available in Indonesia Click here to continue For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Semen Indonesia (SMI) mewaspadai pergerakan semen Anhui Conch di Indonesia. Walaupun saat ini masih menduduki posisi ke enam di pasar semen domestik, namun Anhui Conch berani membanderol harga jauh lebih rendah, dan terus membangun pabrik di Indoensia.

“Mengapa harus mewaspadai China? Meski saat ini di pasar nasional produk semen China masih kecil? Produksi semen mencapai 5 miliar ton per tahun, dan serapannya untuk negeri China mencapai separuhnya. Yang jadi persoalan, konsumsi semen di China trennya semakin menurun. Artinya, mau tidak mau akan dilempar ke ASEAN. Jika semakin banyak semen Anhui Conch merambah, SMI dalam kondisi berbahaya,” kata Sekretaris Perusahaan SMI AgungWiharto, saat menyampaikan bahasan sengitnya pertarungan industri semen di Indonesia, dalam Sarasehan Pemantapan Kinerja Perusahaan, di Ruang Synergi, Gedung Utama Semen Indonesia, lantai 4, Selasa (26/06).

Faktanya, hingga tahun 2017 lalu, pasar semen di tingkat nasional, Semen Indonesia masih menguasai pasar dengan kapasitas produksi 35,9 persen dari total produksi 107,4 juta ton. Disusul berurutan Indocement TP (24,9), Lafarge Holcim Indonesia (15,7), Semen Merah Putih (7,5), dan Semen Bosowa (7,4). Bahkan, semen China Anhui Conch masih di urutan enam dengan kapasitas produksi 5,2juta ton. “Ini artinya, 63 persen industri semen masih dikuasai pihak asing atau swasta,” tandas dia, sembari mengatakan jumlah produsen semen di Indonesia mencapai 17 perusahaan.

“Sayangnya, jumlah semen itu yang terserap hanya 66,3 juta ton, jadi ada surplus cukup besar. Ini menjadikan produsen menjual semen tanpa margin keuntungan. Yang penting tidak rugi,” tambah Agung, yang telah berkarir di Semen Indonesia selama 25 tahun ini.

“Satu contoh, Bosowa sudah tidak mampu bersaing di Kalimantan, sejak hadirnya Anhui Conch, dengan membangun pabrik di Kalimantan. Pasalnya, mereka menyerah kalah saat perang harga melawan Anhui Conch. Bayangkan, Anhui Conch berani membanderol Rp 630 ribu per ton jika dibayar cash, dan jika kredit dihargai Rp 650 ribu ton. Sedangkan SMI masih membanderol di harga Rp 840 ribu per ton. Bayangkan, bagaimana kita bisa bersaing melawan China?” ulas dia. “Untungnya kinerja penjualan semen terangkat melalui pasar ekspor yang mencapai angka Rp 500 miliar.

“Kenapa semen China bisa dijual murah? Karena cost produksi mereka bisa ditekan. Saya pernah mengintip pabrik mereka di Kalimantan. Ternyata, pekerjanya kebanyakan dari negeri China. Saat saya tanya, mereka sudah enam tahun tinggal di Kalimantan. Jadi mereka turut membangun pabrik semen dilanjutkan menjadi pekerja pabrik. Tahukah, apa yang dikonsumsi mereka? Bubur dan sayur saja. Belum lagi kantor mereka yang hanya dari triplek dan van blower saja. Wajar jika harga jual semen Anhui Conch sangat murah. Setiap pekerja mempunyai semangat yang sama, yaitu menjadikan negara mereka, China, menguasai dunia,” tandas pria yang hobi naik gunung ini.

“Keadaan kita semakin sulit karena Anhui Conch terus membangun pabrik, dan juga pemain lain seperti Indocement juga terus ekspansi pabrik, di serang mereka menjual semen per ton dengan harga Rp 630 ribu per ton,” kata dia.

“Ini diperparah dengan keluarnya Permendag nomer 7 tahun 2018, tanggal 12 Januari lalu, tentang dibukanya kran impor klinker dan semen curah,” tambah Agung.

Yang dilakukan SMI adalah melakukan efisiensi di berbagai lini. Termasuk dalam hal maintenance. Sebagai gambaran, ketika target laba diusulkan Rp 1,1 triliun, usulan biaya maintenance mencapai Rp 2,4 triliun. Kata Agung, hal ini tidak masuk akal. Untuk itulah dihadirkan Departemen Maintenance, agar lebih terkontrol. Selain itu, untuk menguatkan daya saing SMI, beberapa bagian di Opco, misalnya pengadaan batubara, pemasaran, distribusi dan beberapa hal lain diambil alih oleh holding, agar muda dalam kontrol dan tidak terjadi tumpang tindih antara beberapa produk SMI beredar di wilayah yang sama.

Agung mengingatkan, pemilik saham SMI adalah 51 persen milik Indonesaia, sedangkan 49 persen milik publik. Dari angka 49 persen itu, 37 di antaranya dimiliki oleh investor asing. “Secara berkala, kita menyampaikan laporan 3 bulanan kepada investor. Jadi, kalau kinerja SMI takbaik, bukan tidak mungkin mereka akan menjual sahamnya. Kondisi kita benar-benar kurang baik,” tandas Agung. (ros/bwo/lin)