Mendengarkan, Jadi Kunci Keberhasilan Komunikasi

Kunci keberhasilan komunikasi efektif, bukanlah berbicara, tapi mendengarkan feedback yang disampaikan lawan bicara.  “Karena dengan mendengarkan, kita mengetahui seberapa besar lawan bicara mengerti apa yang kita omongkan,” kata Tommy Evan Kastanya, dari Konsultan Leadership Inc,  dalam pelatihan Effective Communication Skill, di ruang Customer, Gedung Utama Semen Indonesia, lantai 4, Kamis (24/05).

“Umumnya yang kebanyakan orang tahu, seseorang bisa menyampaikan pesan melalui verbal  dengan jelas dan praktis, dinilai cakap berkomunikasi. Padahal, kunci dari keberhasilan komunikasi adalah mendengarkan, bukan kepandaian bicara,” kata Tommy, yang sarjana Teknik Industri ini.

Jika saja keengganan mendengarkan lawan bicara terjadi pada sebuah perusahaan atau organisasi, maka kemungkinan muncul beberapa kendala. Misalnya, pekerjaan tumpang tindih, pekerjaan tak tepat waktu, hasil tak sesuai harapan, ada pihak yang diam saja, tak mampunyai prioritas yang sama, pesan bisa tak sampai di level bawah, masih ada iklim urusan diri sendiri, lebih cepat merespon meski belum didengar secara baik, ingin cepat dan buru-buru, sulit mengelola emosi.

“Padahal 75 % waktu kita dalam hidup dipakai untuk berkomunikasi, dan 70 persen kesalahan kerja karena faktor komunikasi juga. Bahkan bisa menyebabkan konflik. Karenanya, kualitas manajer selain dilihat integrity juga kemampuan komunikasinya,” beber Tommy, pria suku Maluku kelahiran Bandung ini.

Terkait pentingnya mendengar ini, Tommy memberikan game sederhana kepada 19 peserta pelatihan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Salah satu game, dalam satu kelompok ada yang bertugas menggambar sementara anggota lainnya mengingat-ingat bentuk  gambar yang ditunjukkan Tommy. Lalu, bentuk gambar itu dikomunikasikan kepada yang menggambar. Ternyata, hasilnya tidak ada yang sama dengan gambar yang ditunjukkan oleh Tommy. Kenapa?

“Karena yang melihat gambar mendominasi dengan menyampaikan arahan kepada si penggambar yang pasif. Harusnya, si penggambar lebih proaktif bertanya, sedangkan yang melihat gambar lebih banyak mendengar,” ulas Tommy.

Dalam berkomunikasi, kata Tommy, bisa secara verbal yaitu bicara, tulisan atau isyarat.  Atau lewat vokal yaitu melalui suara, serta visual yaitu melalui bahasa tubuh.  Dari tiga cara komunikasi itu, simpul Tommy, yang paling dominan adalah bahasa tubuh. Dia mencontohkan, jika berbicara dengan orang yang baru kenal, saran Tommy, sebaiknya ada ruang antara keduanya saat berbicara, jika bicara sambil duduk sebisanya tegap, jangan bersedekap, atau jangan kerap-kerap melihat ponsel atau jam tangan.

“Kecakapan komunikasi efektif perlu terus dilatih. Untuk percepatannya, yang dibutuhkan adalah kepercayaan diri yang tinggi, rasa empati, dan memahami bahasa tubuh,” pungkas Tommy. (ros)