Lima Desa di Sekitar Pabrik Semen Rembang Tampak Lebih Asri

Hujan gerimis yang  mengguyur Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, terasa menjadi berkah. Sebab hujan yang diharapkan pun akhirnya turun. Meskipun hanya gerimis namun cukup menyejukan daerah di pantai utara (pantura) ini, debu yang beterbangan akibat lindasaan roda kendaraan juga menghilang dari pandangan mata.

Di tengah gerimis, Sunardi, warga Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Rembang, bersemangat mencabuti rumput liar  yang berada di sekitar beberapa tanaman . Ia baru menanam tanaman-tanaman itu tiga bulan lalu di belakang rumahnya.

Pemandangan serupa juga terlihat di beberapa desa lain sekitar pabrik semen Rembang seperti Tegaldowo, Pesucen, Timbrangan, dan Kadiworo. Warga terlihat giat merawat berbagai tanaman buah seperti pisang, mangga, dan rambutan.

“Saat ini tanaman-tanaman ini memang belum berproduksi, namun disini jika sebelumnya tanaman sulit
tumbuh, kini  subur setelah banyaknya air dari embung yang dibangun oleh PT Semen Indonesia,” kata Hardjono, 37, warga Desa Tegaldowo, Kecamatan
Gunem.

Sejauh mata memandang di  lima desa di sekitar pabrik kini tampak hijau dengan berbagai tanaman. Sebelumnya, lima desa tampak gersang di musim kemarau. Lima desa berlokasi di sekitar pabrik semen Rembang.

Sejak pabrik berdiri, warga mendapat pembinaan mengenai budidaya perkebunan. Bahkan, tanaman pisang tanduk yang sebelum tak bisa tumbuh, kini subur di sekitar pabrik.

Tidak hanya sekitar pabrik, jalur pantura Sarang – Rembang juga mulai tampak hijau. Pohon mahoni berjejer rapih di sisi kiri dan kanan jalan.

Pantai Banggi Rembang pun tampak asri. Dulu, pantai digerogoti abrasi. Sekarang lebih aman karena penanaman mangrove yang mampu membentengi.

“Kami sebelumnya khawatir rumah kami diterjang gelombang, karena jika sepuluh tahun lalu jarak rumah dengan bibir pantai sekitar 1 kilometer. Ini hanya tinggal beberapa ratus meter akibat abrasai,” kata Nurdin, 45,
warga Desa Pasar Banggi, Rembang.

Ribuan tanaman mangrove, demikian Nurdin, telah tumbuh dan mampu menjadi benteng. Bahkan saat peringatan
Hari Bumi lalu, lanjut Nurdin, Partai Nasional Demokrat (NasDem) menambah 2.000 tanaman mangrove dan cemara laut. Sehingga pinggir pantai menjadi hijau. Garis pantai pun aman.

Program penghijauan memang telah dirancang dan dilaksanakan jauh sebelum pabrik semen dibangun tiga tahun lalu. PT Semen Indonesia mengawali dengan menanam 10.000 tanaman mangrove di pantai Banggi Rembang. Kemudian 16.000 tanaman penghijauan mahoni di sepanjang jalur pantura Sarang – Rembang.

Tidak hanya itu saja 200 tanaman buah-buahan juga dubagikan kepada warga di Desa Kumendung. Selain untuk penghijauan  dengan harapan setelah tumbuh dan berproduksi nantinya mampu mengangkat perekonomian warga desa.

Bahkan 10 desa di sekitar pabrik semen dengan kapasitas 3 juta ton per tahun ini juga, dilakukan penanaman 10.500 pohon produktif dan konserfasi. Selain tetap menjaga daerah sekitar pabrik
hijau dan tanpa polusi,  juga mengurangi kebisingan pabrik agar tidak mengganggu warga sekitar.

Bupati Rembang Abdul Hafids mengatakan sejak tahun 1996  terdapat 19 izin penambangan di Rembang. Namun tidak ada yang melakukan perbaikan terhadap lingkungan, bahkan hanya meninggalkan kerusakan karena
ditinggalkan begitu saja selesai ditambang.

“Secara ekonomi juga tidak memberikan dampak apapun karena hasil tambang dibawa keluar Rembang,” tambahnya.

Beberapa tahun sebelum ada rencana, kata Abdul Hafids, PT Semen Indonesia telah berkiprah memperbaiki lingkungan di Rembang dengan melakukan penghijauan. Setelah membangun pabrik, pabrik tetap menggencarkan penghijauan.

Menjaga lingkungan telah terprogram oleh pabrik semen Rembang  yang saat berproduksi nantinya akan dapat menampung 1.698 orang pekerja, lanjut
Abdul Hadids, menurut rencana setelah melakukan penambangan daerah yang telah ditambang akan kembali dihijaukan.

“Ini merupakan industri  penambangan berwawasan lingkungan dan sekaligus akan dapat meningkatkan
ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Metrotvnews.com, Rembang