Komut Gali Info A1 untuk Presiden

Tak ada kamus bersantai di benak Sutiyoso. Empat hari setelah ditunjuk menjadi komisaris utama (Komut) Semen Indonesia, pria yang akrab disapa Bang Yos itu langsung turun ke lapangan. Kamis (6/4), sehari penuh dia berkunjung ke Pabrik Rembang, berdialog dengan warga sekitar, serta melihat lahan tambang existing yang ada sejak 1996. Sehari berikutnya Bang Yos singgah ke Pabrik Tuban dan mendapati pengelolaan pabrik yang ramah lingkungan, jauh dari kesan ”seram” yang dibayangkan masyarakat selama ini. ”Saya hadir di sini untuk mendalami respons masyarakat terhadap pabrik itu seperti apa. Karena pemberitaan selama ini saya nilai simpang siur. Ya, di media sosial, cetak, elektronik, sacara nasional seperti itu. Dan celakanya, ini sudah mencuat di dunia internasional,” tutur Bang Yos setelah berdialog dengan warga di gazebo embung Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Setelah menemui warga yang pro maupun kontra, mantan gubernur DKI Jakarta itu menyatakan bahwa fakta di lapangan bertolak belakang dengan apa yang dimengerti orang-orang di Jakarta. ”Ternyata 95 persen warga (ring I) mendukung pendirian pabrik. Dan ini adalah perusahaan pemeritah yang tidak mungkin menyengsarakan rakyatnya sendiri. Nggak akan pernah ada pabrik di sini kalau ujung-ujungnya menyengsarakan warga,” tegasnya. Buktinya, pabrik belum beroperasi tapi sudah memberikan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kehidupan masyarakat sekitar. Misalnya embung atau danau penampung air, pipanisasi air bersih, pelatihan keterampilan, bantuan keagamaan, dan lainnya. ”Makanya, mereka mendesak saya supaya menyampaikan kepada Pak Jokowi agar pabrik ini segera beroperasi. Mereka mengerti manfaatnya seketika dan yang akan datang,” imbuhnya. Menurut penuturan warga, dulu anak-anak tidak mau disekolahkan sampai SMP. Begitu pabrik berdiri, mereka minta disekolahkan agar nanti bisa bekerja di Semen Indonesia. Berkaca dari sana, Bang Yos meminta masyarakat tidak mudah percaya dengan berita yang simpang siur, tapi sebaiknya datang langsung ke lapangan. ”Seperti yang saya lakukan ini. Sehingga kita objektif, tahu fakta yang sebenarnya seperti apa. Seluruh info yang saya dapat ini akan saya laporkan kepada presiden, info yang betulbetul objektif dan A1. Sebab, seorang penentu kebijakan itu tidak boleh salah membuat keputusan gara-gara masukan yang keliru,” beber kepala Badan Intelijen Negara (BIN) sebelum digantikan Budi Gunawan pada 9 September 2016 itu. Termasuk soal tuntutan warga agar Pabrik Rembang segera diresmikan, Bang Yos berjanji meneruskannya langsung kepada Presiden Jokowi. ”Sebenarnya masalah ini akan selesai kalau presiden datang dan meresmikan Pabrik Rembang. Sebagai komisaris, saya juga punya harapan sama,” ucap Bang Yos. KAGUMI PABRIK TUBAN Sehari berikutnya Bang Yos dibuat terkesima dengan apa yang dilihatnya di Pabrik Tuban. Rampung bertemu jajaran manajemen Semen Gresik yang dipimpin Dirut Sunardi Prionomurti di lantai 7 kantor pusat SG di Tuban, Sutiyoso langsung melihat-lihat area tambang batu kapur dan tanah liat. Area itu dipilih karena sering dijadikan komoditas pihak-pihak tertentu untuk menyerang SMI. ”Opini di luar yang dibangun, baik di dalam maupun luar negeri, tentang kita itu kan kejam. Menzalimi petani, nggak peduli dengan lingkungan, aktivitas tambang kita merusak lingkungan, serta sederet cap negatif lainnya,” ungkapnya. Faktanya, apa yang dia saksikan berbeda 180 derajat. ”Sama sekali jauh dari opini yang diciptakan itu. Saya sungguh kagum dengan apa yang telah dilakukan Semen Indonesia dalam mengelola tambang dan juga pabriknya. Kalau di Tuban bisa, saya yakin kisah sukses ini juga bisa diterapkan di Rembang,” papar letnan jenderal TNI (pur) kelahiran Semarang itu. Sekali lagi, Bang Yos bakal menyampaikan apa yang dilihatnya di Rembang dan Tuban kepada presiden. Dia minta data positif tersebut didukung foto dan video. ”Sebagai komisaris utama, saya juga akan undang Pak Jokowi untuk meresmikan Pabrik Rembang nanti,” ucap Bang Yos. Bukan hanya kepada presiden, dia juga akan road show ke kalangan legislatif dan sejumlah media massa. Di sisi lain, manajemen SMI harus lebih aktif dalam menyampaikan apa yang sudah dilakukan selama ini kepada media. ”Ini PR yang harus dikerjakan manajemen. Kita ini kalah jauh dalam pembentukan opini. Tetapi, bukan berarti tidak bisa dikejar. Kita bisa melakukannya dengan kerja keras dan kebersamaan,” pungkas Bang Yos. (ram/fir/lin/znl/SG)

Source : SINERGI