Keberhasilan Tuban Diterapkan di Rembang

Keberhasilan Tuban Diterapkan di Rembang

Annisa Sulistyo Rini Minggu, 26/03/2017 11:34 WIB

Foto areal pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, di Gunem, Rembang, Jawa Tengah, Rabu (22/3).

Gersang, tandus, miskin, dan sarang tindak kriminal melekat erat kepada Desa Kerek, Tuban, Jawa Timur pada 1960-an. Namun, kini desa yang merupakan salah satu bagian dari areal pabrik Semen Gresik di Tuban berubah menjadi lebih baik setelah hadirnya sejumlah pabrik di sana pada awal 1990.

Pada awalnya, seperti halnya cerita seputar pendirian pabrik di sejumlah daerah, penduduk Desa Kerek dan sejumlah desa lainnya menentang pendirian pabrik, termasuk pabrik Semen Gresik.

Salah satu tudingan yang umum adalah merusak lingkungan, mengganggu keberadaan lahan tanaman, dan soal kesenjangan sosial terutama penyerapan tenaga kerja lokal.

Musiran, General Manager Produksi PT Semen Indonesia (persero) Tbk.— Pabrik Tuban, yang juga warga lokal, mengungkapkan pada awalnya sangat sulit meyakinkan penduduk desa di sekitar pabrik.

Banyak aksi demontrasi menentang pendirian pabrik. Namun, sambungnya, seiring dengan perkembangan waktu, manajemen Pabrik Tuban membuktikan bahwa keberadaan pabrik justru mampu menciptakan lingkungan yang lebih baik serta memberikan manfaat ekonomi kepada warga, termasuk para petani.

“Kami sudah membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar. Pabrik ini justru ramah lingkungan dan bisa membantu pemberdayaan ekonomi warga sekitar,” ujarnya ditemui di Pabrik Semen Gresik Tuban, Rabu (15/3).

Dia menegaskan, kehadiran industri yang memiliki empat unit pabrik itu mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Misalnya, petani padi kini bisa panen tiga kali setahun dari sebelumnya satu kali hingga dua kali per tahun.

Menurut Musiran, lingkungan menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan produksi pabrik PT Semen Indonesia (Persero) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mulai dari penambangan, pengolahan, sampai pendistribusian.

Dia menambahkan areal eks-galian batu gamping (kapur) justru ditanami dengan tanaman keras, seperti pohon jati, mahoni, sengon, nangka, sukun, dan manga. Salah satu bukti dari keberhasilan reklamasi eks-tambang kapur itu adalah kawasan glory hole seluas sekitar 42 hektare.

“Seluruhnya areal eks-tambang kapur kami kelola dengan menanami tanaman keras agar debu dan suara yang dihasilkan tidak sampai mengganggu permukiman warga sekitar pabrik,” tegasnya.

Selain itu, sambung Musiran, ekslahan tambang tanah liat (clay) juga berubah menjadi kolam penampung air untuk menampung air hujan, sekaligus menjadi sumber pengairan sawah petani.

Selain itu, areal kolam air yang kini mencapai 120 hektare itu dijadikan warga melakukan budi daya ikan nila dengan keramba apung.

Beberapa areal tambang yang berhasil direklamasi kini menjadi tempat parkir air yang dapat dimanfaatkan petani untuk mengairi lahan pertanian, bahkan beberapa petani padi kini mampu panen sampai tiga kali, padahal semula mereka hanya mengandalkan hujan.

Dia menjelaskan, pabrik yang melayani distribusi di Jawa dan Kalimanan ini sebelum melakukan penambangan membangun pagar pohon atau greenbelt guna mencegah debu yang dihasilkan dari penambangan kapur dan tanah liat atau lempung tidak sampai keluar.

“Kami tidak memungut apa pun dari hasil panen mereka. Masyarakat sekitar juga diberi keleluasaan untuk memanfaatkan pohon buahbuahan yang ada di kawasan sekitar, bahkan dibeberapa lokasi petani memanfaatkannya untuk bercocok tanam singkong, kacang kedelai, dan jagung,” kata Musiran.

Dia menjelaskan bahwa keberhasilan Pabrik Tuban itu juga akan diterapakan di Pabrik Semen Gresik di Rembang, Jawa Tengah. Bahkan, pabrik di Rembang bisa lebih baik dalam hal teknologi yang akan diterapkan di lokasi yang kini masih menuai protes kelompok warga desa itu.

Manajer Humas Semen Gresik Tuban, Mochammad Sani Yuwono mengatakan potensi tambang yang dikelola pabrik di Tuban diperkirakan sampai dengan 20 tahun, namun perusahaan telah mengantongi izin pengembangan kawasan dengan potensi sampai dengan 50 tahun.

Saat ini perusahaan dan anak perusahaan memiliki hampir 8.000 lebih karyawan tetap, karyawan dari perusahaan rekanan 1.800 orang, serta multiplier effect bagi masyarakat sekitar.

Perusahaan juga menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemkab Tubang Rp100 miliar pada 2016 berupa pajak galian, pajak penerangan jalan umum, PBB, retribusi air bawah tanah. Adapun total PAD Kabupaten Tuban sebesar Rp300 miliar.