Aksi Damai Warga Ring 1 Sambut Komisi IV DPR-RI

Pabrik Rembang kembali menjadi ajang penyampaian aspirasi warga ring 1. Kali ini ratusan warga lima desa —Desa Kajar, Timbrangan, Tegaldowo, dan Pasucen, Gunem, serta Kadiwono, Bulu— menggelar aksi damai untuk menyambut kedatangan pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI di pabrik milik Semen Indonesia itu pada Kamis (13/4). Mereka berjajar rapi di depan gedung CCR sambil membawa puluhan poster dengan aneka tulisan. Antara lain ”Ojo tutup pabrik semen, kami butuh kerja dan hidup”, ”Kami siap kerja, Bung, hidup semen!”, ”Gun Retno ojo ngapusi presiden”, dan ”Gun Retno pulang saja ke Pati, jangan urusi warga Rembang”. Siang itu rombongan wakil rakyat yang dipimpin Ketua Komisi IV Edhy Prabowo datang dengan bus. Selain Edhy, tampak Wakil Ketua Komisi IV Viva Yoga Mauladi, Wakil Ketua Herman Khaeron, serta anggota Sudin, Ichsan Firdaus, Darori Wonodipuro, Lalu Gede Syamsul Mujahidin, dan Acep Adang Ruhiat. Turut serta dalam rombongan sejumlah pejabat eselon I dari Kementerian Pertanian serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Salah satunya Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan San Afri Awang yang juga ketua Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, Rembang. Kepada para anggota Komisi IV, warga ring 1 menuntut agar Pabrik Rembang segera beroperasi. ”Kami prihatin aksi penolakan terhadap pabrik semen ini dikait-kaitkan dengan warga Samin atau Sedulur Sikep. Padahal, di lima desa ini tidak ada budaya Samin atau Sikep. Lalu, ada yang mengatasnamakan petani Kendeng. Faktanya, warga kami 95 persen petani dan 100 persen mendukung pabrik semen,” tutur Kades Kadiwono Ahmad Ridwan. Sebelumnya, minat anak-anak setempat untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP maupun SMA/ SMK sangat rendah. Tapi, setelah pabrik semen dibangun, minat anakanak untuk melanjutkan pendidikan meningkat drastis. ”Dengan harapan, setelah lulus nanti bisa berkarya di pabrik semen. Karena itu, selaku kepala desa, saya ingin sekali melihat warga saya sejahtera,” tegasnya. Suharti, warga Desa Tegaldowo, mengaku sedih begitu mendengar kabar bahwa Pabrik Rembang tidak boleh menambang batu kapur di lahan sendiri. Sebab, dia punya harapan besar atas hadirnya pabrik semen di desanya, terutama dari sisi peningkatan pendidikan. ”Selama ini warga kami menganggap pendidikan itu tidak penting. Nggo opo sekolah duwur-duwur, toh akhirnya tidak jadi apa-apa. Tapi, setelah mendengar akan ada pabrik semen, kami punya harapan agar anak-anak bersekolah yang tinggi demi masa depan yang lebih baik,” kata guru TK itu. Bukan hanya soal pekerjaan, menurut Suharti, meningkatnya minat anak-anak untuk melanjutkan pendidikan itu juga bisa mengurangi angka pernikahan dini yang cukup tinggi di desanya. Tokoh warga Tegaldowo lainnya, Dwi Joko Suprianto, prihatin atas keluarnya rekomendasi KLHS yang mengakibatkan pengoperasian Pabrik Rembang kembali tertunda. Padahal, pabrik semen menjadi harapan baru untuk mengurangi angka kemiskinan yang sangat tinggi. ”Warga kami kebanyakan petani tadah hujan, hanya bisa menanam setahun sekali. Kalau musim kemarau, bapak-bapak banyak yang merantau ke kota untuk mencari sesuap nasi sebagai buruh bangunan,” tutur dia. Dwi menegaskan, mayoritas warga Rembang, terutama warga ring 1, mendukung berdirinya Pabrik Rembang. ”Kami punya bukti 5.000 tanda tangan warga beserta KTPnya. Ini bisa kami tunjukkan buktinya dan dukungan itu masih akan terus bertambah,” ungkap Dwi, lalu menandaskan bahwa warga Rembang sudah bosan dengan kemiskinan. Ketua Komisi IV Edhy Prabowo lega begitu mendapat berbagai masukan dari warga ring 1. Dia menjamin bahwa keputusan yang akan diambil nanti lebih berpihak kepada rakyat. ”Mana yang kira-kira positifnya lebih banyak, itu yang akan kami dukung,” kata dia dalam pertemuan di Gedung CCR Pabrik Rembang yang juga dihadiri Dirut SMI Rizkan Chandra, Direktur Pemasaran & Supply Chain Ahyanizzaman, Direktur Enjiniring & Proyek Aunur Rosyidi, serta Bupati Rembang Abdul Hafidz. (lin/bwo)