Ahli Sipil dan Mekanik SMI Dilatih Ilmu Geoteknik

Minimnya ahli geoteknik yang dimiliki Semen Indonesia membuat manajemen produsen semen pelat merah ini tergerak untuk menggelar pembelajaran geotechnical engineering. Menggandeng Lembaga Kerjasama Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, pelatihan tentang geotechnical engineering ini di gelar di Ruang Customer Gedung Utama Semen Indonesia, Rabu (4/4).

Satu orang guru besar dan 3 orang doktor dari UGM turun langsung untuk berbagi pengetahuan praktis terkait geoteknik. Guru besar yang datang adalah Kabul Basah, sementara 3 doktor yaitu Sito Ismanti, Fikri Faris dan Ahmad Rifai.

“Memang SMI banyak memiliki ahli sipil dan mekanik, karena selama ini jarang terkena kendala dalam urusan tanah. Antara Gresik, Padang, Makassar tanahnya nyaris serupa. Barulah ketika membuka Indarung VI dan Jepara, para ahli sipil kita, dihadapkan kepada masalah tanah,” kata GM of Desain and Engineering SMI Durain Parmanoan, ketika memberikan sambutan dalam acara ini.

“Saya mewajibkan teman-teman sipil di engineering mempelajari dan memahami secara total geoteknik, karena tak ada satupun lulusan geoteknik yang diterima SMI. Dan ini kewajiban saya, bagaimana membawa orang-orang di engineering bisa memahami geoteknik,” tandas dia.

Durain menceritakan, dulu SMI tak pernah berpikir melirik sarjana geoteknik, sebab tanahnya nyaris sama, yaitu tanah kapur. Ini sudah dihafal di luar kepala. Jadi kalau mau bikin pabrik ya di tanah kapur, kuat. Saat bikin Indarung VI, ternyata tanahnya berbeda dengan Indarung I sampai V yang teksturnya kapur. Di Indarung VI bekas lahan gambut. Membangun pabrik di Dumai juga mengalami problem tanah, dan paling parah saat membangun pabrik Rembang.

Durain sudah melihat persoalan ini, meski saat itu dia belum berada di posisi Desain and Engineering. “Begitu saya masuk di desain and engineering, itu menjadi prioritas saya. Tidak boleh lagi ada problem yang muncul karena permasalahan tanah,” tandas dia. “Silakan teman-teman sipil menerjemahkan. Kita tak punya ahli geoteknik, tapi tak boleh ada masalah tanah. Dan kegiatan ini perlu disusul kegiatan-kegiatan lain untuk kian mematangkan pengetahuan geoteknik. Logika saya, yang bisa memahami geoteknik adalah orang-orang sipil,” tambah Durain.

Latar belakang lainnya, lanjut Durain, project harus pindah-pindah, tidak menetap. Dia membeber Tuban dan Padang adalah pabrik terakhir dan tak boleh menambah. Maka, harus dibuka di daerah lain, dan pasti jenis tanahnya berbeda.

Sementara dalam penyampaian materi, Fikri Faris membeber contoh berubahnya konstruksi permukaan tanah mengalami penurunan vertikal, karena tanah lempung di bagian dalam mengalami pengeringan. Salah satunya pada bangunan tangki beton milik Pertamina, rumah tinggal yang ambles atau miring bahkan retak. “Penurunan bangunan yang berbeda satu dengan lain, menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan atas, dan mechanical equipment di dalamnya, terutama di area interface atau pertemuan antarbangunan,” kata Fikri. “Bayangkan kalau ini terjadi pada pabrik semen,” tambah dia.

Hal ini disebabkan, air pori yang berada di kedalaman tanah, mendapat tekanan dari permukaan tanah, sehingga air pori mengalir ke arah tekanan yang lebih rendah. “Dalam geoteknik ini disebut konsolidasi,” kata Fikri. “Untuk mempercepat bisa menggunakan drainase vertikal berupa kolom pasir, pita geosintetik. Atau yang dikenal dengan PVD, yaitu prefabricated vertical drain,” tambah Fikri.

Peserta antusias mengikuti pembelajaran, dan kerap bertanya berdasar pengalaman selama melaksanakan project. Salah satunya, peristiwa di Rembang, di mana patok, bangunan bisa bergeser cukup jauh, bahkan tanah yang bergerak bisa membuat hancur bangunan di atasnya. (ros)